Sutta Studies: Yamaka Vagga Ayat 1 & 2

Dalam Yamaka Vagga ayat 1 & 2 disebutkan bahwa semua ini berawal dari pikiran.

  1. Pikiran adalah pelopor,
  2. Pikiran adalah pemimpin,
  3. Pikiran adalah pembentuk. Dia membentuk apa?

Kita dari kecil sampai sekarang selalu berpikir. Dan di sekolah kita diajarkan bagaimana berlatih berpikir. Pikiran yang kita dilatih adalah pikiran2 yang duniawi, pelopor, pembentuk.

Dalam Dhammpada Yamaka Vagga ayat 1 dikatakan: KALAU BERBICARA ATAU BERBUAT DENGAN PIKIRAN BURUK, maka PENDERITAAN AKAN MENGIKUTINYA

Sedangkan ayat 2 dikatakan: KALAU BERBICARA ATAU BERBUAT DENGAN PIKIRAN BAIK, maka KEBAHAGIAAN AKAN MENGIKUTINYA

Jadi kalau kita berpikir baik maka kita bahagia, kalau kita berpikir buruk maka kita menderita. karena begitu pikiran kita buruk, semua keadaan menjadi negatif.

Begitu marah, ucapannya jadi kasar, perbuatannya juga kasar. Namun ketika sedang bahagia, jatuh cinta, melihat pasangannya merasa bahagia, ucapannya jadi manis, tersenyum dan perbuatan juga jadi baik.

Yang kita cari dalam kehidupan sekarang ini adalah kebahagiaan. Tadi sudah diberi tahu kalau kita berpikir baik kita akan bahagia. Jadi kalau kita mencari bahagia, apa yang harus kita lakukan? Yaitu berpikir baik. Jadi rumusnya mudah: kalau saya ingin bahagia, saya harus berpikir baik. Jadi begitu kita sedang tidak merasa bahagia, koreksi yang pertama kali harus kita lakukan adalah: “oh pikiran saya dalam keadaan tidak baik”.  Begitu saya merasa kesal, berarti pikiran saya sedang dalam keadaan negatif.

Semakin pandai melatih mengendalikan pikiran, semakin bisa tidak menimbulkan amarah ketika dicela orang. Tetapi suatu saat akan meluap juga, karena dasar dari pikirannya yang belum diketahui.

Persis dengan apa yang disampaikan Sang Buddha dalam Samyutta Nikaya 1 halaman 227 tentang cara bekerjanya hukum Kamma. Ada 3:

  1. SESUAI DENGAN BENIH YANG DITABUR, BEGITULAH BUAH YANG AKAN DIPETIKNYA.
  2. PEMBUAT KEBAIKAN AKAN MENERIMA KEBAIKAN, PEMBUAT KEJAHATAN AKAN MENERIMA KEJAHATAN
  3. TERTABURLAH OLEHMU BIJI-BIJI BENIH, ENGKAU PULA YANG AKAN MEMETIK BUAHNYA.

Bisa saja kita memanipulasi pikiran kita sendiri, men sugesti pikiran kita, meng hipnotis diri kita sendiri, tetapi hukum tadi tidak akan berubah, penderitaan dari hukum Kamma tidak bisa beralih tempat. Lalu apa gunanya saya memohon maaf, Apa gunanya saya mengkoreksi diri, Jika tetap akan terima akibatnya.

Bahwa pelatihan pengakuan kesalahan / dosa bukanlah hal yang baru, sudah ada di masa Sang Buddha pada hari Pavarana (hari terakhir masa vassa 3 bulan). Yakni hari pengakuan kesalahan. Bikkhu-bikkhu junior mengaku kepada bhikkhu seniornya (kalau dia telah melakukan kesalahan ini dan itu), jika kesalahannya ringan dia meminta bimbingan / nasehat. Kalau kesalahannya berat, dia meminta hukum. Dan berjanji untuk merubah diri . Bhikkhu senior juga mengakui kesalahan ke yang di atasnya. Begitu seterusnya, berjenjang.

Meskipun kita sudah melakukan pengakuan dosa dan sejenisnya, rasa bersalah dan negativitas yang sudah tertanam di dalam diri kita kadang sulit dihilangkan.

Ada satu pengetahuan yang diperlukan yang biasanya dibahas dalam kelas meditasi.

  • manusia terdiri dari kelompok jasmani (rupa-kkhanda) dan kelompok batin (nama-kkhanda). Banyak orang menganggap batin adalah satu keadaan solid yang tidak berubah-ubah, Sang Buddha menyatakan bahwa batin ini selalu berproses, bukan satu unit utuh yang tidak berubah-ubah. Batin dan jasmani selalu berinteraksi.
  • Dalam hubungannya dengan dunia luar, kelompok jasmani (rupa-kkhanda) diwujudkan dengan adanya 6 indera, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan ‘indera pikiran’ (indera mano, manindriya).

Kita hidup dan pasti kontak dengan dunia luar melalui panca indera. Sang Buddha menyatakan ada indera yang ke 6, yakni Mano (sebetulnya tidak begitu pas diterjemahkan “pikiran” dalam bahasa Indonesia).

Kita bisa hidup karena Mano ini selalu bekerja dan mendapatkan santapan, santapan pikiran (manohara).

  • Berprosesnya kelompok jasmani dan kelompok batin itulah yang dinamakan makhluk hidup atau pancakkhanda (lima kelompok proses kehidupan).

Kelompok batin (nama-kkhanda) diwujudkan dengan adanya:

  1. vinnana-kkhanda ( kelompok kesadaran inderawi ),
  2. sanna-kkhanda ( kelompok pencerapan ),
  3. vedana-kkhanda ( kelompok perasaan )
  4. sankhara-kkhanda ( kelompok ’pikiran’ ).

Bagaimana pola berpikir kita? Bagaimanakah jasmani dan batin berproses?

Begitu mata kita memandang, kita selalu melihat pantulan dari benda itu ke mata kita. Kita tidak melihat cahaya langsung, tapi pantulan cahaya ke benda ke kita, jadi kita bisa melihat benda itu. begitu ada 1 sensor masuk ke mata kita, ini diterima. Pada saat itu bekerja 1 khanda, 1 kelompok kesadaran. Tapi ini baru hanya satu saat, dan Sang Buddha uraikannya begitu panjang.

Begitu kita mendengar suara, kesadaran teling bekerja. Begitu kita mencium , kita belum tahu apa itu karena pikiran kita bekerja cepat sekali (hampir menyerupai kecepatan cahaya). Begitu ada sentuhan ke kulit, kulit terasa, ada kesadaran (keompok pertama). Karena indera kita ada 6, maka kesadaran yang timbul ada 6. Tapi biasanya ini kita tidak sadari karena tahapan ini sangat awal, yang namanya Vinnana.

Begitu vinnana ini bekerja, begitu vinnana mati langsung diikuti Sanna (pencerapan, memori, harddisk kita). Sanna ini berfungsi mengenali apa yang dilihat, apa yang didengar, yang dicium, apa yang dikecap, apa yang dirasakan di kulit, dan apa yang dipikirkan – yang diterima oleh Mano.

Sanna adalah mengenali. Karena sebelumnya anda tidak tahu, ketika kecil anda diberitahu orang tua “ini buku”, begitu dikasih tahu “ini buku” sanna bekerja dan disimpan di dalam memory. Fungsi sanna yang kedua: begitu sudah mengenali, dia bisa memberikan penilaian. Anda bisa menilai pulpen saya bekas dari membandingkan dengan ciri-ciri pulpen baru yang anda pernah lihat sebelumnya.

Jadi penilaian Sanna berdasarkan pembandingan, data lama dia simpan . begitu data baru masuk, dia bandingkan. Kalau data baru lebih kuat dari data lama, dia menghapus data lama dan mengambil data baru. Tetapi kalau data baru yang masuk tidak direspon dengan baik, masih tetap tersimpan daa lama. Contoh: anda masih mengingat seorang anak kecil yang nakal sekali, 5 tahun kemudian anak tersebut tampil rapi dan sopan, anda yang melihatnya membuat Sanna anda memperbaharui dengan data baru dari anak yang sudah berubah tersebut.

Penilaian2 ini sangat penting, dan itulah yang menentukan pikiran kita yang akan datang. Di dalam agama kaum Brahmana, kalau anda bisa mengendalikan / mengatasi Sanna, itu mencapai tahapan yang tertinggi, alam kehidupan tertinggi Brahma yaitu Nevasannanasannayatana. Karena Sanna ini mempengaruhi tahap yang selanjutnya dan yang paling penting. Semua perbuatan kita dasarnya dari Sanna ini (data masuk, kita terima, dan berespon).

Begitu Sanna ini memberikan penilaian (contoh: wanita ini cantik / buruk, pria ini tampan , dst). Semua ini berdasarkan informasi dari Sanna. Proses berikutnya: Vedana (perasaan).

Kita pasti pernah merasakan sesuatu, ada 3 macam:

Menyenangkan, Tidak menyenangkan , Netral (antara menyenangkan dan tidak menyenangkan).

Perasaan ini ternyata bekerja tidak hanya di pikiran kita, tapi juga bekerja di jasmani kita:

  • Kalau ada orang yang mengusap pipi kita, kita tersentuh. Begitu kita melihat orang berkata manis, kita menjadi senang. Rasa menyenangkan bisa dari sentuhan (secara fisik), ataupun dari pujian (secara batin).
  • Perasaan tidak menyenangkan juga terbagi 2. Contoh: ketika ditampar orang (fisik), dan dimarahi orang (batin).

Jadi perasaan ada: 2 + 1 (dasarnya) dan ditambah secara fisik dan batin.

Kita mencari rasa yang menyenangkan dan menghindari rasa yang tidak menyenangkan baik secara fisik maupun secara batin. Kita diombang-ambing oleh yang seperti ini. dari sejak bayi lahir sampai kita meninggal.

Setelah vedana, proses sankhara khanda. ini satu proses yang menjadi dasar untuk kita berpikir, berbicara dan berbuat. Sankhara merupakan lanjutan dari vedana, dan dia merespon vedana. Begitu perasaan yang timbul adalah menyenangkan, karakteristik dari sankhara adalah mengulang. Begitu ada yang menyenangkan, dia akan ulang, dia akan mau lagi, lagi, dan lagi.

Begitu ada hal yang tidak menyenangkan, karakteristik sankhara ini dia mengulang dan menolak, mengulang penolakan. Semua masalah kita timbul karena sankhara.

Begitu ada yang menyenangkan, anda tertarik, mengulang2 lagi, anda mau lagi dan lagi. Inilah awal dari keserakahan. Semakin anda mengulang, semakin anda terikat seperti lem. Keserakahan ini bisa bertambah , bisa berkurang, dan bisa lenyap.

Begitu pula dengan hal yang tidak menyenangkan. Contoh: begitu anda mencium bau, anda langsung tahan nafas. Itu reaksi penolakan. Begitu anda menolak terus-menerus, menimbulkan kebencian. Kita tidak suka, benci. Dan kebencian ini bisa bertambah (kita tidak suka melihat dia, tapi terus menerus ketemu dia, bertambah benci), bisa berkurang, dan bisa juga lenyap.

Di antara perasaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, ada area abu2 yang netral. Input dari sanna juga netral, penilaiannya juga tidak positif dan negatif, perasaan menjadi bingung, begitu perasaan bingung, sankhara mengulang kebingungan2, tidak bisa bersikap, dikatakan enak ya tidak enak, dikatakan tidak enak ada enaknya juga. Dia mengulang hal2 yang seperti itu. akibatnya yang terjadi pada pikiran kita kebingungan, kebodohan, kegelapan, ketidaktahuan (Moha).

Jadi setiap input yang masuk, diolah, dinilai, dirasakan, dan begitu perasaan ini bekerja, sankhara kita bekerja. Begitu sankhara bekerja, dia memerintahkan kepada pikiran , ucapan, badan jasmani, untuk melakukan.

Apapun produk dari sankhara, selalu diliputi oleh keserakahan, kebencian, atau kebodohan.

Kita selalu mencari dan mempertahankan hal yang menyenangkan. Begitu ada hal yang tidak menyenangkan yang pertama kita lakukan adalah menolak, contoh: menggaruk2 telinga, untuk merubah dari yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan.

Semua dikendalikan oleh perasaan, memberikan input kepada sankhara. Sankhara memerintahkan kepada organ tubuh kita untuk bertindak.

Bahkan di dalam waktu tidur pun kita dikendalikan oleh hal yang seperti ini, vedana ini memberi input sankhara anda, dan sankhara memerintahkan organ tubuh anda untuk bertindak. Contoh: setelah tidur 1 jam, timbul perasaan tidak menyenangkan, dan anda merubah posisi tidur anda agar menjadi menyenangkan.

Pada waktu kita makan, dan makanannya enak, pada saat ambil piring, kita cenderung ambil piring yang besar. Itu ekspresi dari keserakahan kita, sadar / tidak sadar, mengakui / tidak, itulah yang kita lakukan. Kita memilih makanan yang menyenangkan.

Anda melihat orang cantik berjalan, apakah begitu anda melihat wanita cantik langsung tutup mata? Biasanya mata kita melihat tanpa mau melepas.

Setelah sankhara ini kita lakukan. Siklus yang kedua, vinanna bekerja dan memberikan input kepada sanna. Sanna ini kemudian memberi input kepada vedana, dan lalu ke sankhara lagi.

Karena ada lobha, dosa, moha disana, pasti yang timbul adalah Kamma.

Bagaimana dengan pola pikir orang suci? Sanna –vedana – sankhara – vinnana, siklus ini berproses sangat cepat sekali. Sama seperti cahaya yang kita lihat, sepertinya konstan, terus menerus, tidak ada jeda.

Namun dalam ilmu fisika, cahaya itu adalah gelombang yang tidak konstan, nyala-mati-nyala-mati. karena kemampuan mata kita yang terbatas, tidak mampu menangkap kondisi nyala-mati yang sangat cepat, sehingga kita secara salah menilai cahaya itu konstan. Karena saking cepatnya , kita melihat keliru. Saking cepatnya Sanna –vedana – sankhara – vinnana berproses, ada timbul satu hal, yaitu konsep “Aku”, diriku, milkku.

Sama seperti air di baskom yang diputar cepat airnya, timbul pusaran. Karena aku berpikir, timbullah aku. Aku ini adalah pusat dari segala-galanya (seperti ketika melihat pusaran yang dianggap sebagai pusat air, padahal itu timbul dari air yang berputar).

Siklus vedana-sankhara ini bisa kita putus. Bagaimana kita bisa menilai perasaan dan diputuskan jangan sampai perasaan ini menimbulkan sankhara yang selalu menimbulkan penderitaan bagi kita.

Orang yang giat belajar karena mau mendapatkan nilai terbaik. Itu hal yang positif, pikiran yang baik. Pikiran yang baik ini pun masih dicengkeram keserakahan, sama hal nya dengan berbuat baik. Selama dilakukan dengan orang biasa masih tetap dicengkeram oleh keserakahan.

Perbuatan yang dilakukan oleh Sang Buddha adalah perbuatan yang tidak dikendalikan oleh perasaan. Perasaan yang timbul tidak lagi perasaan menyenangkan, tidak menyenangkan dan netral (area abu2). Bagaimana enaknya hidup kalau tidak ada perasaan? Ibarat makan tanpa garam. Ada orang yang bertanya seperti itu kepada Sariputta (murid utama Sang Buddha): “kebahagiaan apa yang kita dapatkan kalau tanpa perasaan?”, jawab Sariputta “justru tanpa cengkeraman perasaan itulah kebahagiaan”

Perasaan menyenangkan ini direspon oleh sankhara, sankhara itu adalah Kamma. Kita berbuat kamma baik sangat luar biasa, kita akan mendapatkan pahala baik yang luar biasa. Apa yang terjadi dari perbuatan baik luar biasa yang dilakukan Sang Buddha? Pahalanya tentu luar biasa, apakah harus diterima oleh Sang Buddha sendiri? Kalau harus diterima, kapan selesainya hidup, akan terus menerus mengulang kehidupan.

Sang Buddha dan Arahat begitu melihat benda, vinnana bekerja, memberikan input kepada Sanna, Sanna tetap memberikan informasi dan penilaian, memberikan input kepada Vedana. Vedana kemudian memberikan input kepada Sankhara. Input dari Sanna kepada Vedana berbeda dengan orang biasa. Contoh: ketika kita melihat uang emas , informasi langsung masuk sampai Sanna.

Sang Buddha melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, tidak ada bedanya emas dengan nasi. Mungkin orang akan memilih emas (membedakan dengan nasi), tapi kalau seekor kucing akan memilih nasi (membedakan / tidak pilih emas). Sehingga Sanna memberikan input kepada Vedana tanpa menyenangkan / tidak menyenangkan / netral. Hanya sebagai perasaan, sehingga tidak ada input kepada Sankhara, sehingga Sankhara tidak bereaksi, putus disana. Sehingga Sang Buddha tidak lagi memproduksi Sankhara, tidak lagi memproduksi Kamma, baik maupun buruk.

Jadi yang Dhammapada tadi itu masih pikiran duniawi, masih dalam rangka Sankhara. Selama kita belum terbebas dari Sankhara, kalau bisa Sankhara khanda nya kita ini hanya memproduksi yang positif.

Ajaran Sang Buddha sangat sistematis: Janganlah berbuat jahat, berbuat baik, sucikan pikiran.

Jadi sebelum kita berbuat baik, yang penting anda netral dulu, jangan berbuat jahat, berarti sudah tidak menyakiti diri anda sendiri, baru setelah itu anda berbuat baik. Meskipun kita sadar positif kita ini masih dicengkeram oleh “Aku” , masih dicengkeram oleh keserakahan, kita terus berbuat positif. Setelah anda sudah bisa berbuat positif, dalam tahap yang lebih lanjut, ketika anda sudah matang, saatnya anda tidak lagi memproduksi kamma2, sankhara2. Pikiran anda bukan lagi mencari kebaikan menghasilkan kebaikan. Kalaupun belum bisa memutuskan secara keseluruhan, belajar untuk memutuskan saat per saat dulu. Makin sering diputus, kita akan mengalami satu saat dimana frekuensi pikiran tidak lagi melonjak naik turun. Pada saat itu kita akan mencapai ketenangan yang luar biasa.

Sang Buddha ketika ditanya “kenapa masih banyak umat dan bikkhu yang tidak mau meditasi ?”, menjawab “selama kita masih dicengkeram oleh rasa menyenangkan, kita masih mencari => kalau saya meditasi hasil nya apa? Kalau saya meditasi tidak menghasilkan apa2 (ini masih dicengkeram oleh keserakahan) saya tidak mau melakukannya”. Selama orang itu belum mendapatkan kebahagiaan dari meditasi, dia tidak akan melakukan meditasi.

Berapa jam Sang Buddha meditasi? 24 jam, setiap saat selalu dalam keadaan meditasi. Bahkan tidur pun dalam keadaan meditasi.

Bagaimana meditasi waktu tidur? Anda hanya memperhatikan nafas masuk dan keluar sampai tertidur. Sampai nanti suatu saat, ketika terus dilatih, anda akan bisa mendengar suara “ngorok” anda sendiri. Berarti sebenarnya tertidur pulas pun orang bisa sadar. Dia bisa menghentikan ngorok.

PIkiran itu bisa menjadi Receiver (menerima gelombang pikiran) dan Transmitter (memancarkan gelombang pikiran), sama seperti gelombang TV, anda bisa menyalakan TV di mana saja. Kalau mano kita kuat, kita sensitif bisa menerima dan bisa punya kekuatan untuk mempengaruhi mano-mano yang lain. Disanalah telepati bekerja. Disanalah hipnotisme bekerja.

Orang yang mau menghipnotis umumnya mencari umpan2 yang mudah (agar pikiran dia lebih mampu mengendalikan yang lain). Umpan mudah adalah orang-orang yang Lobhanya banyak / Dosanya banyak / Mohanya banyak (pada saat itu lagi bingung, tidak bisa bersikap) . dia akan mudah diperintahkan untuk melakukan ini dan itu. ketika timbul keserakahan, kebencian, kebodohan batin pada saat itu tidak bisa berpikir logis, sehingga mudah dipengaruhi.

Ada orang yang berpikirnya simple, ada yang berpikirnya complicated. Sebenarnya Sankhara ini bekerja 24 jam, kecuali kita bisa menghentikan dia, sesaat-sesaat, atau sering menghentikan. Kalau Sang Buddha tidak lagi melakukan. Saking banyaknya sankhara-sankhara itu berproduksi, tidak semua bisa diperintahkan ke dalam pikiran, ucapan dan perbuatan. Nah yang tidak dilakukan bagaimana? Ini disimpan balik ke dalam Sanna (umumnya orang bilang pikiran bawah sadar). Pada saat sankhara tidak lagi melonjak2, aktivitasnya mulai lambat, pikiran bawah sadar ini muncul dan dia mengaktifkan lagi. Makanya dalam keadaan tenang, kita bisa ingat memori2 lama muncul. Jadi semua sankhara selalu bekerja, tinggal sankhara yang bekerja ini diwujudkan dalam pikiran, ucapan, perbuatan atau tidak.

Kalau Sang Buddha sudah tidak ada sankhara lagi, beliau punya memori lama yang timbul dan itulah yang dia terima untuk hidupnya. Sama seperti perumpamaan, kipas angin masih bekerja karena masih ada input power, begitu dicabut powernya kipas angin masih berputar, hanya saja semakin pelan sebelum akhirnya mati. Sang Buddha juga punya 45 tahun hidupnya karena masih menerima hasil kamma masa lalunya, sehingga ada kejadian beliau terluka, dihina orang, dan seterusnya, itu semua Sang Buddha terima dan tidak memberikan respon.

Kita ibarat kipas yang masih tercolok listrik dan masih berputar cepat. Nah suatu saat “on” “off” nya sekali2, lama2 sering “off” dan pada akhirnya bisa “off” seterusnya.

Sumber: Romo Ariya Chandra

Share on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someoneShare on Facebook