Pengenalan Meditasi

Kawan saya ikut meditasi di 2 vihara yang berbeda. Akhirnya beliau malas bermeditasi, karena setiap datang pengajarnya dan metode pengajarannya berbeda-beda, dan dia bingung mau ikut yang mana.

Masalahnya bukan pada pengajarnya, bukan pula pada muridnya. Yang mendasar adalah karena kita belum memahami meditasi Buddhis secara umum, sehingga ketika dijelaskan salah satu bagian dari sebagian besar bagian yang ada, yang belum mengerti akan bingung ini bagian yang mana dan kenapa seperti ini. Kenapa berbeda dengan yang minggu lalu, kenapa berbeda dengan apa yang saya pelajari sebelumnya, dst.

Secara umum ada 2 kelompok meditasi:

  1. Samatta bhavana, meditasi yang memperkuat konsentrasi kita. Jika semakin kuat berlatih, kita bisa mencapai 1 kondisi yang disebut Jhana. Ada 40 obyek dalam meditasi Samatta, dan cara melatihnya juga berbeda-beda. Beberapa obyek yang umum dilatih seperti Anapanasati (mengamati nafas kita), meditasi cinta kasih, meditasi 4 elemen. Ada juga yang beberapa menggunakan perenungan.
  2. Vipassana Bhavana. Tujuannya untuk melatih kebijaksanaan kita. Untuk menghilangkan reaksi2 buruk, energi2 negatif, sankhara2, hal2 negatif di dalam diri kita. Kita menjadi bijak, lebih baik hidup kita, dan mudah2an mencapai tingkat kesucian. Ada 4 obyek utama: Kayanupasana (perenungan terhadap badan), vedananupasana, cittanupasana, dhammanupasana. Jadi dalam kesempatan2 lain, kita akan coba melatihnya.

Jadi karena belum jelas secara garis besar, kadang2 kita bingung apa yang dijelaskan oleh pengajar.

Pada kesempatan ini kita akan berlatih meditasi Anapanasati, tugas kita hanya satu, yaitu memperhatikan nafas kita keluar dan masuk, biasanya di depan hidung kita. Jadi kalau nafas masuk kita tahu, nafas keluar kita tahu. Itu saja. Kita mencoba untuk fokus, mengarahkan pikiran kita hanya pada obyek nafas kita. Mencoba untuk tidak memikirkan yang lain. Lupakan untuk sementara segala urusan kita yang sudah lewat, rencana kita untuk yang akan datang (kita mau kemana, kita mau melakukan apa, dsb). Untuk sementara ketika kita bermeditasi, semuanya itu dilupakan. Tugas kita hanya pada obyek nafas kita. Ketika nafas masuk kita tahu, ketika nafas keluar kita tahu.

Sebelum kita bermeditasi, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan. Meditasi itu bisa dilakukan dalam 4 posisi badan:

  1. Berdiri: diam saja seperti patung di toko baju. Mengamati nafas (kalau nafas sebagai obyek), atau mengamati obyek yang lain.
  2. Berjalan: melatih kesadaran kita, lebih ditekankan untuk menyadari apa yang terjadi atau gerak dari badan kita. Jadi ketika kita berjalan kita tahu kaki mana yang melangkah terlebih dahulu, kaki ketika melangkah ada tahapannya (diangkat, melayang, turun, menapak) baru dilanjutkan dengan langkah kaki berikutnya.

Ketika makan disadari, makan secara perlahan, sedang menyendok makanan, mempersiapkan makanan yang akan disuap, makanannya diangkat, mulutnya dibuka, makanannya masuk, makanannya dikunyah, dst.

Di beberapa center meditasi, biasanya latihan ini diimbangi dengan meditasi duduk dan jalan bergantian.

  1. Berbaring: tidak disarankan dalam posisi terlentang. Karena biasanya kita akan terlelap tidur, tidak jadi bermeditasi. Yang dimaksud adalah posisi seperti Buddha berbaring, jadi posisi miring ke kanan dan tangannya kanan menyangga kepala. Jadi kalau kita mengantuk misalnya, kita tahu, karena tangan penyangga ini akan jatuh ketika mengantuk.

Tentu saja bagi orang yang sakit, tidak bisa melakukan meditasi dengan posisi yang lain, bisa melakukan dengan posisi berbaring.

  1. Duduk: posisi yang paling umum dan yang paling mantap. Kita tidak mungkin meditasi posisi berdiri 1 jam, berjalan 1 jam, berbaring dengan menyangga kepala 1 jam. Mungkin tangan kita kelelahan, tapi kita bisa duduk 1 jam, ada yang kuat sampai beberapa jam posisi duduk.

Kalau kita duduk bersila, secara metafisik dikatakan badan kita membentuk sudut piramid. Ini juga membantu karena piramid itu diakui mempunyai kekuatan. Kekuatannya ada di 2 per 3 dari bawah, jadi kalau kita duduk bersila, 2/3 itu berada di dada kita, karena di dada kita ini ada pusat energi juga, secara metafisik yang juga bisa menyokong meditasi kita.

Perlu diperhatikan posisi kaki kita pada saat duduk. Pilihan:

  1. Side by side. Posisi kaki kita 1 kaki ada di sisi bagian dalam, dan 1 kaki lagi di sisi bagian luar. Boleh kaki kanannya yang diluar, kaki kirinya yang di dalam, atau sebaliknya. Prinsipnya kakinya tidak ditumpuk, tapi saling berdampingan.
  2. Setengah Lotus. Kakinya ditumpuk, jadi 1 kaki di bagian bawah, satunya lagi sampai lutut saling menumpuk di atasnya. Baik kaki kanan yang di bawah atau kaki kiri yang di bawah boleh2 saja.

2 posisi ini harus kita duduk di atas jok, jadi pantatnya lebih tinggi dari kaki. Ini akan memudahkan kita untuk duduk tegak. Karena selama meditasi diusahakan punggung kita tegak.

  1. Full lotus (teratai penuh). Kakinya saling mengunci (kaki kanan ditaruh paha kiri, dan kaki kiri ditaruh di paha kanan). Tidak saya sarankan untuk peserta yang baru, karena sangat sulit, karena sebentar saja nanti kakinya sakit (tidak nyaman bermeditasi). Kalau bisa dalam posisi full lotus, kita tidak perlu pakai jok, otomatis punggung kita akan tegak.

Coba dalam 1 kali duduk, hanya 1 posisi. Dan ketika duduk di saat lain berikutnya, posisi duduknya diingat, kalau sebelumnya kaki kanannya yang di bawah, berikutnya kaki kirinya yang di bawah. Itu akan membantu juga untuk keseimbangan badan kita.

Lalu yang perlu diperhatikan: tangan diletakkan di pangkuan, tangan kiri di bawah, tangan kanan di atas. Ibu jarinya diketemukan, ditempel. Biasanya kalau kita melihat orang bermeditasi, dia duduk, kita bisa tahu dia bermeditasi atau tidak. Kalau dia mengantuk, biasanya ibu jarinya tidak menempel lagi.

Usahakan lengan tangan kita berada di samping, jangan agak menunduk, sehingga dada kita mempunyai ruang yang cukup ketika kita nanti bernafas.

Punggung usahakan tegak, tapi seluruh badan tidak tegang / kaku. Jadi jangan ditegakkan punggungannya dengan cara mengkakukan badannya. Ketika punggungnya agak membungkuk selama meditasi tidak apa2, kembali tegakkan kembali punggungnya.

Mata nya dipejamkan selama bermeditasi. Untuk sementara indera mata ini bisa dikendalikan. Kita tidak terganggu dengan ada orang yang membuka pintu di ruangan ini, mungkin ada orang yang berdiri. Kalau mata kita terbuka, kadang2 ingin menoleh, siapa yang datang, siapa yang berdiri, dsb. Jadi usahakan matanya ditutup.

Kita akan menggunakan nafas sebagai alat bantu. Jadi tugasnya nanti hanya memperhatikan nafas. Dan nafasnya alami. Tidak perlu ditarik, didorong, dihembuskan, tidak perlu. Biarkan saja seperti apa adanya.

Kita bernafas setiap saat, sepanjang umur kita. Tidur pun kita bernafas. Sekarang tugas kita hanya memperhatikan nafas itu. nafas masuk tahu, nafas keluar tahu. Tidak perlu memperhatikan yang lain.

Selama bermeditasi kita bisa awali dengan mengingat tujuan kita, (saya mau bermeditasi sekian lama). Kalau pikiran kita kurang tenang, mungkin kita bisa membaca paritta pendek. Kita bisa juga menyebut “sabbe satta bhavantu sukhitatta” beberapa kali. Sehingga jadi tenang, kemudian kita bisa mulai melakukan meditasi kita.


 

Kita baru saja selesai bermeditasi. Saya berharap nanti di rumah di coba, dipraktekkan kembali, di latih. Memang melakukan meditasi itu tidak mudah. Banyak gangguan-gangguan yang mungkin muncul ketika kita meditasi. Karena kita punya badan, gangguan itu bisa muncul di badan kita. Karena kita punya pikiran, gangguan itu juga bisa muncul di pikiran kita.

Yang paling sering untuk pemula adalah kesemutan, kaki kita kebas, ada rasa tidak enak, kadang2 sakit kakinya, karena kita tidak biasa duduk dalam posisi bersila, dalam jangka waktu yang agak panjang. Sebenarnya ini tidak apa2, tapi ketika rasa tidak nyaman tsb muncul, pikiran kita biasanya mulai terganggu, karena kita akan memperhatikan / memikirkan kaki kita. Kadang2 kakinya mati rasa, kita jadi bingung (bagaimana kalau nanti saya berdiri, dst).

Kalau kita sering latihan, biasanya rasa kesemutan ini seperti bergeser. Katakanlah 15 menit pertama kita bisa duduk dengan tenang, dan setelah itu muncul kesemutan. Kalau kita berlatih di rumah, dia akan bisa bergeser di menit ke 20, ke 25, ke 30, dst. Semakin kita sering coba terus untuk duduk, dia biasanya akan bergeser dengan sendirinya.

Gangguan fisik lain, muncul kadang2 rasa gatal, umpama di pipi kita. Atau rasa seperti digigit nyamuk / serangga yang lain. Itu sebenarnya hanya perasaan kita, sensasi yang muncul di badan kita. Kalau nanti berlatih di rumah, kalau sudah dipastikan di kamarnya tidak ada serangga, semut, nyamuk, biarkan saja rasa itu. kita tahu ada rasa itu, tapi pikiran kita tetap pada obyek nafas kita.

Kadang2 rasa itu muncul di tempat yang lain. Mungkin di badan kita, atau di kaki kita. Mungkin muncul rasa panas, berkeringat pada saat meditasi. Panas badan ini. Atau mungkin rasa dingin. Itu hanyalah sensasi2, reaksi dari badan kita ketika kita melakukan latihan meditasi.

Gangguan lain adalah mengantuk. Badan kita ini memang butuh istirahat. Tapi ketika kita duduk meditasi, rasa ngantuk itu kadang muncul. Biasanya kemungkinan pertama, karena konsentrasi kita yang menurun. Jadi melamunnya banyak, konsentrasinya melemah, kemudian kita mudah mengantuk.

Kemungkinan kedua, fisik kita lelah, badan perlu istirahat. Ini sering terjadi pada meditasi malam hari. Kita pulang kerja, perjalanan jauh dari kantor ke rumah, macet, dsb. Jadi fisik kita ini sudah lelah, ketika duduk meditasi, mengantuknya lebih cepat muncul.

Ada juga gangguan mengantuk karena dari memori. Ini umumnya dialami oleh mereka yang mempunyai gangguan tidur (biasanya pikiran bawah sadarnya itu sibuk. Ingin ini dan itu, dsb). Ketika dia bermeditasi, pikirannya itu ditenangkan, ketika tenang, memori / ingatan dia seakan-akan berbicara seperti “kalau tenangnya seperti ini enaknya tidur”. Jadi dia mengantuk, dan tertidur. Tapi begitu selesai meditasi, kadang2 dia segar lagi. Jadi sulit tidur.

Jadi gangguan2 fisik ini seringkali menganggu, menimbulkan rasa tidak nyaman. Sehingga kemudian banyak orang merasa “ah meditasi itu tidak enak”. Jadi dicoba, tetap dipraktekkan, walaupun gangguan fisiknya muncul.

Di pikiran kita juga ada gangguan, rasa malas umpamanya. Kita pasti akan menimbang2 waktu kita “saya punya waktu 20 menit” saya akan pakai untuk meditasi atau melakukan yang lain. Kita cenderung memilih untuk tidak meditasi, ada saja alasan di pikiran kita untuk tidak berlatih.

Juga gangguan perasaan kita mengenai waktu. Kalau kita kerja, sibuk, waktu itu rasanya cepat. Tapi kalau kita menunggu kawan, 10 menit itu rasanya lama sekali. Padahal kalau kita perhatikan, jam dinding, waktu itu jalannya sama saja. Sama ketika kita duduk meditasi, rasanya waktu itu lama sekali. Ketika kita kerja, makan, nonton, jalan2, waktu itu rasanya cepat sekali. Karena itu usahakan pakai timer. Kita bisa setel mau meditasi berapa menit. Kita mencoba duduk sampai timernya berbunyi, dan meditasi kita selesai. Ini untuk menjaga perasaan kita atas waktu, karena kalau tidak pakai timer, kita merasa sudah lama duduknya, rasanya sudah cukup . begitu buka mata baru tahu baru sebentar meditasinya.

Jadi usahakan untuk tetap berlatih, kita mencoba mengatasi rasa2 tidak nyaman yang mungkin muncul. Setiap hari luangkan waktu. Kalau bisa kita jadwalkan diri kita untuk meditasi, seakan2 ada tugas yang kita kerjakan.

Selamat berlatih di rumah. Sabbe satta bhavantu sukhitata. Sadhu3x

Sumber: Bpk. Putu Dhana

Share on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someoneShare on Facebook