DhammaChat bersama PATRIA

BL-DhammaChat-PATRIA-MAY-2014Pada kesempatan kali ini, DhammaChat di laksanakan bersama PATRIA (Pemuda Theravada Indonesia).

Ada beberapa point yang di hasilkan dari DhammaChat:

  • Dalam Angutara Nikaya 4:32 sikap hidup yang bisa kita jadikan panduan dalam mencari pasangan (4 sangha vathu):
    1. Kerelaan (Dana)
    2. Ucapan Santun (piyavacca)
    3. Melakukan hal yang bermanfaat (Atthacariya).
    4. Batin yang seimbang dan Tidak sombong, ketidakberpihakan (Sammanattata)
  • Jika ingin hidup yang bahagia bersama (di berbagai aspek kehidupan). Angutara Nikaya4:55, Angutara Nikaya 2:61. Samma Ajiva sutta:
    1. Samma Sila
      Bhavana sangat menguatkan dalam menjalankan sila. Penerapan meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Pernikahan, berorganisasi, dan sejenisnya sebagai latihan spiritual (praktek meditasi yang nyata).
      Jika hidup ingin aman, lingkungannya perlu cari yang aman dulu
    2. Samma cagga
      Dalam berumahtangga, Dana itu bisa menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
    3. Samma saddha
      Keyakinan yang mengarah ke fanatisme, right view nya dimana?
      Saddha diturunkan ke anak, ibu perlu luangkan waktu untuk mendidik anak.
    4. Samma panna
      Pandangan benar selalu diletakkan di paling awal. Bergaullah dengan orang bijaksana, karena ini sangat mempengaruhi pandangan hidup kita. Jika dari awal salah, seluruh arah hidupnya juga salah.
      Saling berangkulan, sinergi, saling melengkapi, tidak jalan sendiri2.
  • Jika 4 kualitas ini tidak ditemukan bagaimana?
    Pengertian “samma” tidak berarti “label”nya harus sama persis. Pengertiannya selaras, tingkat keyakinan yang sama dalam penerapan sehari2 meski berbeda “label” agamanya.
    Contoh:

    • Samma saddha: keyakinan akan hukum sebab-akibat.
    • Samma sila: umumnya bisa diterima oleh semua agama.
    • Samma cagga / kerelaan: bisa memahami kondisi pasangannya yang sedang mengabdi untuk Buddha Sasana.
    • Meskipun masih ada perbedaan kualitas, tetap bisa berjalan bersama? Tidak mudah mendapatkan yang semuanya sama. Bisa “in tune” dengan yang ada dulu. Berusaha membuat hubungan bisa berjalan, sampai ada satu titik dimana kita tetap jalan atau berhenti.
    • Kadang perlu ada “chemistry” untuk bisa berhubungan lebih lanjut. Apapun yang ada di hadapan kita, kita belajar. Meski kadang bertemu dengan teman yang berbeda agama.
    • Kadang perlu “feeling” untuk memutuskan berhubungan dengan pasangan. Kesamaan tetap perlu meskipun awalnya tidak 100%, asalkan ada open minded, masih mau belajar untuk berkembang.
    • Jika tidak melibatkan logika repot juga, bisa-bisa terjerumus dalam permasalahan karena perbedaan yang besar.
    • “chemistry” seperti kalau berbincang-bincang itu nyambung. Meski kadang bisa beda agama, namun keyakinan dalam menjalankan kehidupan itu sama. Banyak bertukar pikiran, diskusi, meditasi, itu bisa mengembangkan samma saddha, sila, dst. Dipengaruhi juga kepercayaan (trust) terhadap pasangannya.
    • Untuk menumbuhkan yang persis sama tidak mungkin, dalam perjalanannya perlu perjugangan / proses untuk menyamakan. Ketika kita menemukan yang samma 4 kualitasnya apakah kemudian menjadi menikah? Belum tentu juga. Apakah “chemistry” menjadi tolok ukur? Karena setelah menikah juga banyak yang chemistry nya hilang. Perlu ada Kerelaan yang membuat pertikaian dapat dihindari, kerelaan mengantar pasangan beda agama ke tempat ibadahnya, kerelaan melayani pasangan, kerelaan memberikan waktu & tenaga untuk sesama.
  • Terdapat istilah Pasangan Teratai (Seorang perumah tangga dengan 5 kualitas adalah laksana sekuntum bunga Teratai.) Yakni:
    1. Memiliki keyakinan
    2. Bermoral
    3. Tidak mempercayai tahayul
    4. Percaya pada perbuatan / kamma dan bukan pada keberuntungan / tanda
    5. Tidak mencari yang pantas didukung (diluar dari sangha) dan tidak memperhatikan yang diluar tersebut terlebih dahulu
      (Angutara nikaya 5: 175)
  • Pernikahan melibatkan 4 hal: dewa-dewi, dewa-raksasi/raksasa, …..
    • Kalau ingin hidup tidak berumah tangga tapi tetap bisa bahagia, jalankanlah / terus berlatih Dhamma.
  • Komitmen dalam hubungan rumah tangga (sutta nipata 125):
    1. Sacca: integritas dalam menjalankan hubungan
    2. Dama: mampu mengendalikan pikiran / kondisi batin kita / emosi kita. Tidak terlarut perasaan.
    3. Khanti: kesabaran. Inilah yang akan mencegah pertikaian.
    4. Cagga: kerelaan.
  • Sang Buddha menyampaikan kalau kita berbagi sesuatu sesuaikan dengan bahasa setempat.
  • Kita berhubungan selalu berkaitan dengan Kamma (masa lalu dan saat ini). Umat Buddha lebih toleran dengan pasangan beda agama. Saddha – sila – cagga – panna sangat penting, namun itu berproses. Sama seperti kaki meja, kalau salah satu retak ya terombang-ambing.
  • Ada beberapa tahapan:
    1. Tidak langsung memutuskan jatuh cinta. Diamati . diperhatikan. Perhatian yang benar.
    2. Lalu mulai membuka buku masing2. Kalau punya 2 buku yang berbeda, sangat sulit menyatu. Kadang buku yang sama pun penafsirannya bisa berbeda. Harus kuat untuk bisa memberikan pengertian2 yang benar. Jangan sampai terjadi perdebatan. Saddha-sila-cagga-panna selalu dijadikan pedoman.
    3. Baru bertemu sama pasangan. Belum lagi ketemu dengan keluarga. Karena pada saat menikah, terjadilah proses yang melibatkan keluarga. Jadi perlu di evaluasi juga keluarganya. Jika 50% sudah cocok dan bisa dikembangkan, bolehlah untuk melanjutkan hubungan lebih lanjut.
Share on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someoneShare on Facebook