DhammaChat Bersama Buddhist Reborn

Dhammachat ini bukan ajang debat, tapi adalah suatu diskusi, bagaimana kita bisa menemukan suatu solusi. Tidak ada tim, semuanya individu yang sebelumnya sudah kita kasih materi dan mencoba belajar. Dan didiskusikan. Aturannya sederhana, saya akan memberikan pertanyaan, tapi bisa juga pertanyaan berkembang dari diskusi teman2. Jangan menggunakan pembahasan ini untuk menyindir siapapun (tidak menggunakan syair2 dhamma untuk menyindir orang lain). Saling menghormati, sama2 belajar.

Seberapa penting cinta itu di dalam mengambil keputusan, dalam membina sebuah hubungan?

  • Banyak orang yang nyemplung dalam suatu hubungan karena atas dasar cinta, padahal katanya cinta itu buta. Buta tapi mau keluarganya bahagia, bagaimana bisa?
  • Cinta penting untuk awalnya walaupun lama2 hilang
  • Michael: dalam pacaran kita mau menyamakan samma saddha, sila, cagga, panna.
  • Langkah apa yang perlu dilakukan untuk menyamakan saddha, sila, cagga, panna? Diajak ke acara ceramah yang pembicaranya ok, ke vihara, retret meditasi (Arya )
  • First impression itu bisa di make up. Tidak melihat seseorang by its cover, cinta harus 2 arah (Reny)
  • Bro Irvyn: statistik di negara maju angka perceraian tinggi sekitar 70%, bahkan di Korea pasangan tinggal bersama ketika punya anak baru dicatatkan dalam catatan sipil. Karena sudah takut untuk ber komitmen . padahal dulu, ketemu pasangan pun baru hari H (tidak pakai chemistry2an), tapi hubungannya langgeng. Kenapa yg masa sekarang pakai chemistry justru menjadi problem? Kenapa trend perceraian ini semakin meningkat?
  • Aristo : [sampai dengan 20.50, m2u00121]
    • Dalam Dhammapada, Piya vagga (sutta tentang Kecintaan), kecintaan dibagi 4: Piya (rasa sayang), Ruci (kesenangan), Pema (Kesukaan), Rati (nafsu indriya). Jadi kalau orang terkena 4 ini kebanyakan orang anggap itu cinta.  Jadi awalnya suka dulu lalu senang, dan kemudian sayang…, kalau sudah sayang otomatis nafsu indriya nya muncul (kita lebih mudah nafsu sama orang yang kita kenal).
    • Suka belum tentu mengejar, mengejar belum tentu dapat, Dapat belum tentu menikah, sudah menikah belum tentu cerai => jadi banyak sekali perjalanan yang harus dilalui. Jadi chemistry itu terbentuk dari 4 hal: suka, senang, rasa sayang , nafsu indria. Ada juga yang sudah ter kontaminasi dengan duit (pacaran karena duit), karena umumnya wanita mau secure (rasa aman).
  • Intinya : cinta dibutuhkan di awal/pintu gerbang. Sebenarnya bukan hanya wanita yang ingin secure.

Untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius, Hal-hal apa lagi yang dibutuhkan selain cinta:

  • Arya: dalam Angutara ada 4 ayat 55 – jika suami istri ingin tidak berpisah dalam kehidupan ini dan yang akan datang, mereka harus punya Keyakinan-moralitas-kemurahan hati-kebijaksanaan yang sama. Karena bertumbuh di vihara, otomatis kami punya keyakinan yang sama. Moralitas kita sama2 jaga, saling mengingatkan. Dana juga . Panna juga melalui meditasi, dll.

Bagaimana jika berbeda keyakinan, kemoralan, kedermawanan, kebijaksanaan? Apakah kalau kondisi begini berarti sudah bye-bye?

  • Willmil: Kita jatuh cinta 2 kali, Pertama jatuh cinta dengan yang disukai dan kedua jatuh cinta dengan siapa dia sebenarnya. Rasa ragu (apakah ini pilihan yang tepat) menghambat kita maju dalam hubungan. Seringkali kita punya Persepsi kalo luarnya baik dalamnya baik. Pada saat berproses ke jatuh cinta yang kedua, mungkin kita perlu Khanti (sabar), compromising / toleransi, persepsi kita terhadap si dia bisa berubah.
  • Wilmil: kita perlu punya kepercayaan kalau pasangan kita bisa berubah ke arah yang lebih selaras dengan kita.
  • Ci Reny: Suami Kristen, mengenai hal-hal kecil kadang masih suka bersilang pendapat, kita harus siap dengan resiko, Punya mental elastisity (setiap kali jatuh, bangun lagi). Memang Cinta itu penting, tetapi endurance itu juga penting, karena kehidupan perkawinan seperti yang Sang Buddha jelaskan, dari cinta itu timbul kesedihan, Dukkha, tapi kalau kita punya rasa takut, dan selalu dalam ragu, tidak mungkin berjalan. Tinggal pilih, mau berumah tangga, atau jomblo, atau jadi bhikkhu, yang penting pilihan kita jelas mau kemana. Jangan sampai terombang-ambing terus. Bagiku, tidak sama tidak apa2, yang penting ada kesabaran.
  • Floor:
    • Tomi: soal masalah hubungan ada kaitan dengan masalah generasi, jaman dulu dijodohkan sama orang tua. Komitmen ada 3 hal yang saya ikuti dari pembicaraan: 1. sebelum memilih pasangan ada baiknya menuliskan kriteria, 2. keberanian (agar mendapatkan), 3. komitmen (suka duka dijalani). Kalau sudah jadi suami istri, perlu : investasi (waktu, perhatian, dll) dan playfulness.
  • Michael: Beda keyakinan Tidak harus langsung di stop. Ada 4 poin yang diperlukan : 1. saling mengerti (tidak langsung judge / emosional), 2. saling mengalah, 3. saling memaafkan, 4. saling menghormati (saling menghormati keyakinan pasangan). – hasil diskusi dengan pak Cornelis Wowor.
  • Jenny: Cinta memang ada tapi jangan cinta buta (buka mata), Cinta sebagai basis tapi jangan dijadikan satu2nya basis dari suatu relationship, kalau ada perbedaan tergantung kejujuran dan toleransi masing2 pihak. Misalnya: apakah bisa toleransi terhadap suatu value dari pasangan kita / tidak, dan apakah bisa diselaraskan dalam 1 visi. Cinta adalah pengorbanan, kita perlu berkorban banyak hal untuk mencapai hal tersebut.

Bagaimana jika menikah tidak diperbolehkan di vihara (oleh mertua) melainkan ke gereja, meskipun antara kedua pasangan ini sudah tidak masalah dengan saddha-sila-cagga-panna ? apakah menjadi pertimbangan?

  • Sylvia: Respect dari masing-masing pasangan dan keluarga. Ada Effort untuk : negosiasi, ber-Aditthana, kalau sampai sudah diusahakan semuanya, tapi tetap terjadi perselisihan, saya melihatnya bukan ikatan karma yang cukup kuat untuk bersatunya 2 keluarga.
  • Aristo: Mengajarkan dhamma penting untuk pasangan dan keluarga. Bagi seorang Buddhist tidak ada karma buruk untuk menikah di gereja tapi sebaliknya mengedepankan Dhamma daripada Pride.
  • Arya: pertanyaannya apakah itu merupakan Kerelaan yang tepat? tidak rela kalau sudah lama berorganisasi di Buddhist tapi harus pemberkatan di gereja. Ingin menikah secara Buddhist jadi pengaturan segala macamnya mudah.
  • Devi: Setuju kebijaksanaan harus dijunjung diatas setiap keputusan yang diambil, terutama dalam hal pernikahan. Tapi kerelaan juga bermanfaat, karena manusia tingkat kebatinannya beda2 (ada yang sudah matang dan tidak tergoyahkan, ada masih mudah digoyahkan, dst). Janji pernikahan harus dipegang. Batin yang tergoyahkan akhirnya semakin menjauh dari Buddha Dhamma (dengan alasan “daripada saya tidak menikah”), ini malah menjadi tidak bijaksana. Karena kita seharusnya tahu nilai kehidupan ini lebih besar ketika kita bisa melatih diri kita sendiri semakin dekat dengan Buddha Dhamma. Kebijaksanaan itu bukan berarti kita mengalah, seakan2 kita menjalani formalitas saja.
  • Juniar: Samma Saddha, Sila, Cagga, Panna … itu indah. Contoh: Suami bergaul diluar istri tidak khawatir / marah, cukup mengingatkan suami akan sila nya. Pembelajaran Dhamma membentuk kita, karena sama2 punya keyakinan yang sama. Karena punya Panna yang sama, mudah berdiskusi dengan pasangan. Jadi ke 4 hal ini membantu kita menghadapi Anicca Dukkha Anatta dalam kehidupan rumah tangga.
  • Reny: Apakah lanjut atau stop? Tergantung kondisi kebijaksanaan dan pride masing2 kedua belah pihak pasangan. Juga tergantung negosiasi. Tidak semua jawaban sama di setiap case.

Jika anak harus masuk ke Agama tetangga karena pengaruh ibunya bagaimana?

  • Aristo: kembali ke pintar2nya kita. Jika anak diajarkan secara agama tetangga oleh ibunya, maka ayahnya yang Buddhis bisa memasukkan Dhamma. Jika mempelajari masing2 kitab, sebenarnya ada kesamaan yang bisa dipakai.

Bagaimana dengan masa depan anaknya jika orang tuanya berbeda agama ? Bisa menjadi dilema

  • Devi: Kalau beda bagaimana? Untuk bisa bertemu dengan orang yang samma Saddha, Sila, Cagga, Panna adalah hal yang sangat baik. Kalau tidak bisa, kita tidak bisa menutup pergaulan kita dengan yang hanya sama agamanya. Tapi jika pasangan ini tidak punya benih / niat untuk bisa berkembang, lupakan. Dan ini tidak hanya masalah dengan pacar. Kadang kita juga sering cekcok dengan teman karena tidak punya kesamaan ini, kalau dia masih mau listen, respect, accept, attitude, itu masih oke.
  • Arya: memang Saddha-Sila-Cagga-Panna itu menjadi filter yang bagus, tapi tidak tegas di awal. Kalau agak berbeda kemudian situasinya saling berharap pindah agama itu berarti tidak perlu dilanjutkan. Tapi kalau pasangannya mau bertumbuh untuk ke sama Saddha-Sila-Cagga-Panna itu boleh dilanjutkan.

Kesimpulannya: sama Saddha-Sila-Cagga-Panna itu tidak mungkin dapat 100% yang sama kecuali punya Kamma Baik yang luar biasa. Kalau pun beda, asalkan orangnya masih mau mendengar, masih mau menghormati kita, dan tidak satu pihak. Dan kalau itu terjadi perubahan, mungkin kita masih punya harapan bahwa hubungan tersebut bisa berjalan. Pentingnya satu kejujuran dan kerelaan di awal.

Bpk. Cornelis Wowor:

  • Ada kisah seorang bhikkhu tua di Korea, Ketika perang Korea terjadi banyak keluarga berantakan dan anak ditinggal begitu saja. Bhikkhu tersebut melihat ada anak menangis sendirian, lalu anak tersebut dibesarkan di vihara sebagai samanera. Satu waktu anak ini yang sudah remaja mendengar suara wanita menyanyi, suaranya menarik bagi dia. Dia mencari dan menemukan wanita yang sedang mandi, dia bingung, dia melihat manusia itu yang bentuknya berbeda dengannya, dia mengalami perubahan fisik (badan panas, dll), lalu dia lari ke gurunya dan melaporkan perubahan kejadian fisik yang dia alami. Ketertarikan pria ke wanita atau sebaliknya memang sudah alamiah. Ada kebutuhan seks di dalam cinta.
  • Jika karena karma masa lampau, jatuh cinta pada pandangan pertama tidak bisa dipungkiri, chemistry langsung bergerak. Jika hubungan karma tidak kuat menemui tantangan yang sangat bervariasi, salah satunya tantangan agama. Meskipun sama agama pun tantangan tetap ada.
  • Beda agama?

Contoh Jamal mirdad dan Lidya kandou ternyata untuk jangka panjang pisah juga hubungannya. Jamal akhirnya punya istri lagi karena tidak dilarang oleh agamanya sedangkan yang dianut Lidya harus setia dengan satu pasangan. Itu adalah resiko kalau berbeda agama, maka konsepnya juga beda. Begitu beda agama, problem sudah muncul. Perkawinan dalam Agama Buddha adalah persetujuan di kedua belah pihak (orang tua / wali), karena di dalam Sigalovada Sutta orang tua berkewajiban mencarikan pasangan. Contohnya: Visakha, dia seorang Sotapana tapi kawin dengan pasangan beda agama, dikawinkan oleh kedua orang tuanya.

  • Dulu ada pasangan yang mau kawin, berucap kalau mereka dipisahkan lebih baik mati (karena problem beda agama, pada saat kawin harus memilih gereja / vihara). Pride keluarga bisa menjadi masalah. Tapi memang kalau kawin beda agama itu bagaikan menanam bom waktu.
  • Prinsip dasar di Agama Buddha, orang mau kawin maupun tidak kawin itu tidak apa2. Bahagia bukan terletak pada kawin atau tidak kawin. Kawin itu sendiri bagaikan teka teki silang.
  • Orang banyak berpikir Buddha Dhamma hanya sekedar Agama, tapi sebenarnya merupakan realita, bisa dibuktikan. Bukan sekedar kepercayaan yang diterima saja, tapi berdasarkan pengalaman / realita.
  • Hal penting dalam perkawinan: Komitmen awal tetap dipertahankan dengan syarat ada kesetiaan, kalau tidak akan hancur.
  • Bagi mereka yang mau kawin beda agama itu ibarat sedang mendapat kamma buruk, mengapa? Karena sudah tahu ada potensi masalah, mereka mau teruskan. Siap terima resiko. Misalnya: kita tahu Pancasila tidak boleh dilanggar, tapi kalau kita langgar, ya siap terima resikonya.
Share on Google+Tweet about this on TwitterPin on PinterestShare on LinkedInEmail this to someoneShare on Facebook